Nakal Standard

Seorang orang tua pastilah mengharapkan anaknya rajin, menurut, dan pintar. Tapi apa daya lha orang tuanya aja tidak mau mendidik, tidak mau mengarahkan, hanya memerintah belajar tapi tidak mau mendampingi hasilnya adalah NOL Besar. Inilah realita yang terjadi di masyarakat pedesaan, asal orangtua membiayai dan anak sekolah sudah dan hanya berakhir disini, mungkin hanya sebagian kecil saja.

Saya sering bercerita ketika SD dengan Ibu dan nanti saya sebut simbok saja biar saya enak menulisnya. Simbok saya ini lulusan MAN di Yogyakarta, dan pekerjaannya hanyalah ibu rumah tangga yang menggarap sawah dan keseharian dirumah, beliau dengan tekun mendidik dan mengarahkan aku agar bisa menjadi manusia yang lebih baik dari beliau, ketika umur 3-6 tahun aku tergolong anak yang agak bandel bin NAKAL dalam tanda kutip positif, banyak gerak, dan pengen tau, ada bukti yang masih ada di tangan saya sebuah bekas goresan membentuk huruf D di jari, usut punya usut dulu saya mainan pepaya dan pisau dan malah mengenai tangan saya, ya namanya pengen tau kan. Kemudian kalau lagi Nesu/ ngambeg saya memiliki kebiasaan memakai pakaian yang lusuh, dan gag mau ganti kalau habis dibelikan celana baru haaha..

Memanggil anak dengan sebutan nakal tidaklah baik malah memotivasi anak tersebut menjadi pribadi yang nakal, ketika ibu saya bilang " bocah kok/..........." dan memang sebelum selesai bilang aku jawab PINTER hehe :D ya meskipun otak saya pas pas an ini lah yang memotivasi saya untuk menjadi orang pintar tapi saya lupa orang PINTAR itu kalah dengan Orang BEJO, dan beruntungnya saya, saya bisa saja BEJO tapi tetap PINTAR, tetapi orang BEJO belum tentu PINTAR.

Saya GERAM ketika salah satu kepala sekolah SMP saya PERIODE 2012an ini memanggil anak-anak bandel dengan panggilan anak NAKAL, dan meskipun beliau lulusan Bimbingan Konseling, saya rasa beliau kurang memperdulikan dampaknya, Lingkungan Pendidikan sekolah akan berpengaruh bagi seorang Anak, dan manfaatkan waktu sekolahmu sebaik mungkin, dan jika anda seorang Guru jadilah guru yang mendidik jangan hanya pengajar. Ma'ruf Cahyadi

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar